Taman Ayodia bersiap
Taman Ayodia setahu saya satu-satunya taman di ibukota yang memilki mata air yang tak pernah kering.
Hari ini media memberitakan langkah-langkah yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Jika setiap kebijakan Pemprov disosialisasikan seperti ini, atau lebih luas lagi, barangkali benturan-benturan dan energi yang terbuang untuk mengatasinya, bisa dihindari. Malah Pemprov akan memperoleh banyak masukan bagus yang buntutnya akan menaikkan citra positif Pemprov sendiri, bukan?
Dipastikan Taman Ayodia di kawasan Barito, Jakarta Selatan, mulai dibangun awal Juni 2008 dengan biaya sekitar Rp 1 miliar.
Wakil Gubernur DKI Prijanto mengungkapkan "saat ini tahap awal pembangunan Taman Ayodia telah dilaksanakan, yakni penentuan gambar taman tersebut. Penentuan gambar yang nantinya menjadi referensi pembangunan taman tersebut merupakan hasil sayembara."
Langkah selanjutnya adalah pembuatan detail desain, berdasarkan detail desain tersebut kemudian dilakukan proses lelang. Pembuatan detail desain ini diperkirakan selesai pertengahan Mei nanti.
Sementara itu pasca penggusuran pada pertengahan Januari lalu, sampai saat ini kawasan tersebut hanya ditutupi dengan blok pembatas berwarna hijau. Sedangkan pengerjaan taman sama sekali belum terlihat. Ada tulisan "Pedagang bunga dan ikan pindah ke Pasar Radio Dalam". Sebelumnya, Taman Ayodia dipenuhi pedagang bunga dan ikan hias. Dalam eksekusi penggusuran itu, pedagang dan aparat pemerintah daerah sempat bentrok.
Jeda waktu yang mencapai enam bulan antara penggusuran dan pembangunan membuat beberapa mantan pedagang bunga di Pasar Barito kecewa. Jeda waktu itu seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berdagang.
”Jika dibangun masih Juli, kenapa kami dipaksa pergi sejak Januari? Kan masih ada lima bulan yang dapat digunakan untuk berjualan di situ,” kata Herman, mantan pedagang bunga di Pasar Barito.
Menanggapi keluhan mantan pedagang, Sekretaris Daerah DKI Jakarta Muhayat mengatakan, izin resmi Pasar Barito sudah dibatalkan sejak setahun sebelum penggusuran. Pedagang sudah tahu dan mempersiapkan diri.
Taman Ayodia dipilih untuk direvitalisasi menjadi ruang terbuka hijau karena lokasi itu sangat mendukung bagi penciptaan taman baru. Taman itu bukan hanya akan menjadi paru-paru kota, tetapi juga menjadi penyerap air dan tempat wisata.
Pengubahan lokasi penampungan pedagang kaki lima menjadi ruang terbuka hijau, kata Muhayat, akan terus dilakukan. Kebutuhan ruang terbuka hijau yang semakin tinggi memaksa banyak tempat yang seharusnya menjadi jalur hijau dikembalikan kepada fungsinya.
Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta Sarwo Handayani mengatakan rencana penataan Taman Ayodia telah dikaji sejak 2000. Sosialisasi penataan dilakukan enam tahun kemudian.
Tahapan penataan dimulai dengan relokasi, pengosongan lahan, serta pembangunan fisik sarana dan prasarana. Dari lahan seluas 7.000 meter persegi itu, sebanyak 5.000 meter persegi digunakan untuk lahan hijau dan 2.000 meter persegi untuk danau.
Taman Ayodia termasuk dalam rencana penambahan ruang terbuka hijau sebanyak 5 hektare pada 2008. Untuk itu, pemerintah telah mengajukan anggaran Rp 40 miliar.
Sampai 2006, jumlah ruang terbuka hijau yang dimiliki Dinas Pertamanan DKI Jakarta seluas 21,02 juta meter persegi atau 2.102 hektare. Ruang terbuka hijau itu terdiri atas taman kota, jalur hijau jalan, taman bangunan umum, tepian air, dan kebun bibit. [dari Kompas, Koran Tempo, BeritaJakarta]













0 comments:
Post a Comment